Senin, 27 Februari 2012

MEMBUAT KONSTRUKSI FLOWNET DAN MENGHITUNG DEBIT ALIRAN AIRTANAH DENGAN FLOWNET

Salah satu unsur terpenting pada suatu peta topografi adalah informasi tentang tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan variasi ketinggian suatu tempat pada peta topografi, umumnya digunakan garis kontur. Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama. Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan.
Flownets adalah suatu peta atau konstruksi yang berisikan peta kontur airtanah (equipotential line) dan peta aliran tanah (streamlines). Garis kontur airtanah adalah garis yang menghubungkian tempat-tempat yang mempunyai kedalaman muka air tanah (hydraulic head) yang sama.
Pada skala dua dimensi, garis dapat dikonstruksi dengan menghubungkan dua titik yang mempunyai kedalaman air tanah yang sama. Biasa juga disebut equipotential line, karena pada tempat yang mempunyai kedalaman muka air tanah yang sama, otomatis mempunyai besar energi potensial airtanah yang sama.Peta aliran air tanah dibuat berdasarkan peta kontur air tanah pada skala dua dimensi.

Secara alami, aliran air tanah akan memotong tegak lurus (90ยบ ) kontur air tanah pada kondisi akuifer yang homogen dan isotropis karena pengaruh potensial gravitasi dan mempunyai arah aliran dari muka air tanah (hydraulic head) tinggi menuju muka air tanah yang lebih rendah. Flownets atau jaring airtanah yang ideal mempunyai bentuk bujursangkar dengan luas yang relatif sama.
Beberapa kegunaan flownets :
a. Untuk menetukan besarnya debit aliran pada segmen yang diinginkan.
b. Untuk mengetahui daerah tangkapan (recharge) dan daerah pemanfaatan (discharge).
c. Untuk memprediksi arah pencemaran air tanah.
d. Untuk mengetahui perubahan pola aliran / anomaly karena besarnya penurapan air tanah oleh manusia(over exploitation) atau karena sebab lain.

 Kemiringan Air Tanah ( Hydraulic Gradient)
Karena air tanah megalir dari muka air tanah tinggi ke rendah, misal dari A ke b, maka rasio dari selisih head A ke B dengan jaraknya disebut hydraulic gradient atau kemiringan muka air tanah.



Prosedur:
1. Menyiapkan peta tinggi muka airtanah, kemudian menentukan kontur interval yang akan dibuat.
2. Membuat peta kontur airtanah dengan metode interpolasi linier (seperti ketika membuat peta kontur muka bumi atau mengkonstruksi isohyet).
3. Membuat interval kontur airtanah = 10 m
4. Setelah peta kontur airtanah siap, maka menentukan arah aliran air tanah dengan cara menarik garis tegak lurus (900) kontur airtanah. Perlu diingat bahwa arah aliran air tanah selalu menuju hydraulic head yang lebih rendah.
5. Mengusahakan bujursangkar yang tergambar mempunyai bentuk dan luasan yang relatif sama.
6. Menentukan daerah tangkapan dan penurapan/penggunaan airtanah.
7. Menghitung hydraulic gradient pada segmen A – B tiap berpotongan dengan garis kontur airtanah.

CARA KERJA
1. Mencari letak sumur dengan menggunakan GPS sebanyak 10 sumur.
2. Mengukur tinggi elevasi, koordinat XY dengan menggunakan GPS pada lokasi setiap sumur.
3. Mengukur tinggi sumur dari bibir sumur sampai permukaan air sebagai h1 dan dari bibir sumur ke permukaan tanah sebagai h2.
4. Mengeplot titik letak sumur pada peta sesuai dengan koordinat XY sebanyak 55 sumur yang diambil dari data setiap kelompok (A, B, C, dan D).
5. Membuat peta kontur air tanah dengan metode interpolasi linear (seperti ketika membuat peta kontur muka bumi dengan metode Isohyet).
6. Menentukan arah aliran air tanah setelah kontur selesai.
7. Menghitung debit air tanah dengan flownet yang telah jadi.

0 comments:

Posting Komentar